mixerinea_
Jumat, 23 Agustus 2013
Rabu, 29 Februari 2012
Kopi Galau
Harum aroma kopi tercium dari uap
secangkir kopi panas di malam yang dingin, termenung tercampur suasana ramai
diselimuti dinginnya malam. Aku hanya diam di tengah kerumunan, sambil sesekali
menghirup aroma kopi jahe. Aku hanya melihat uap kopi berputar-putar, seakan
membawa pikiran ini terus berputar. Aku tidak peduli dengan keramaian, aku
hanya aku dalam pikiranku memikirkan masalahku. Masalah hati ketika melihat
mereka yang duduk berpasangan. Canda tawa dan kemesraan seolah dunia milik
mereka. Sungguh membuatku ingin berteriak dan memarahi orang yang berpacaran di
dekatku.
Tidak hentinya aku memikirkan dia,
dia yang mencerahkan pikiranku, dia yang memikat hatiku, dia yang menurut
adatku adalah seorang saudara. Saudara dalam kesatuan marga. Kini menjadi
kekasih hatiku. Kekasih hatiku terbatasi oleh adat. Sungguh, perasaan ini
sungguh dilemma. Cinta terlarang yang sebetulnya sudah umum. Bukan hanya aku.
Bukan aku orang satu-satunya memiliki kasus ini. Tapi mengapa, seolah dunia
mengatakan… aku tidak pantas memiliki.
Malam perkenalanku dengan seorang
gadis cantik. Dimulai saat aku dan dia berada dalam acara ulang tahun Gerakan
Pemuda GPIB Getsemani-Cirebon. Aku memang warga gereja GPIB Getsemani_cirebon,
mengadakan event malam renungan
selama tiga hari dua malam yang berketempatan di kuningan, sedikit mendekati
Museum Konferensi Meja Bundar. Kami mengundang segenap pemuda GPIB Getsemani
juga dari gereja lain, Gereja HKBP – gereja khusus orang batak—yang membawa
gadis cantik tersebut dalam kehidupanku saat ini.
Aku berkenalan dengan dia di malam
itu. Sungguh, sebenarnya aku belum ada perasaan sedikitpun terhadap dia. Aku
hanya terpikat oleh kecantikannya. Aku memberanikan diri membaur dengan
teman-temannya disaat istirahat. Mencoba mendekati mereka yang saat itu sedang
bersenda gurau di teras kamar perempuan.
“Hai..”, aku menyapa dia.
“Hai juga”, suara lembut gadis
manis cantik membalas sapaanku. Senang rasanya mendengar suara itu, terlebih
dia gadis yang jutek.
“Nama kamu siapa? Aku Joe, namaku
Yohanes Trisu Nababan, tapi dipanggil Joe”, aku memperkenalkan diri.
“Nama aku Sri, Sri Mellani
Sihombing!”.
“Ohh….. kita marito dong”, marito adalah sebutan bagi saudara untuk
lelaki dan perempuan seperti kakak adik. Untuk yang saling marito, mereka memanggil ito.
“oooohhhh… sayang sekali kita
marito”, aku pun pupus, aku bersikap layaknya seorang abang dan bukan lagi
pencari hati cinta wanita. Perkenalan yang singkat, namun menguras hati. Aku
tidak bisa memiliki gadis cantik itu.
Perkenalan singkat yang sungguh
menguras hati. Semakin terkuras saat tahu teman baikku pun mengincar dia.
Jovan. Aku kesal namun hal itu juga yang membawa hubungan ku dan sri semakin
dekat. Sri banyak menceritakan kelakuan Jovan untuk bisa mendapatkan hatinya,
yang saat itu Sri pun memutuskan hubungan dengan pacarnya, saat event malam renungan menyatakan bila
berpacaran beda keyakinan sangat dilarang keras. Berbagai upaya pun dilakukan
Jovan untuk mendapatkan hati Sri.
Banyak upaya banyak juga cerita dan
curahan hati dari Sri kepadaku. Tiga bulan dia dan aku saling sharing. Selama itulah kami dalam proses
pengenalan diri masing-masing. Jika dipikir kembali, hal itu terjadi secara
tidak sengaja. Tidak ada niat untuk melakukan pendekatan, namun kedekatan itu
tercipta begitu saja seiring berlalunya waktu. Sri mengenal aku melalui cerita
pengalaman hidupku, begitu pula aku mengenali dia dari cerita pengalaman
hidupnya.
Sampai pada saat sri mengutarakan
isi hatinya kepadaku. Handphone ku
berbunyi. Sri memanggilku. Aku pun menerima panggilannya.
“Halo,,,”. Sri menyapa.
“Ya halo de,, ada apa? Tumben belom
tidur?”.. aku berbicara setengah ngantuk.
“Iya Joe… aku ngga bisa tidur
nih..”
“Ohhh… hmmmm… Tumben manggil Joe,
biasanya bang.. hahahaha…” aku tertawa ngantuk “ ada apa dek, cerita aja klo
ada yang mau kamu certain”.
“Iya joe, aku mau ngomong sesuatu
ma kamu”
“Ohh… boleh”
“Aku ngga tau joe apa yang aku
rasain, tapi aku nyaman ada kamu. Hhmmmm….. aku ngerasa nyaman klo ada kamu”
Mendengar hal itu, perasaanku
seperti di tampar, otakku bekerja seperti sengatan listrik yang begitu cepat
membunuh orang yang tersengat.
“Apa?? Maksud kamuu.., kamu suka
aku?? Kamu mau pacaran gitu?? Pacaran?? Kita kan marito…”
“Iya bang.. aku suka kamu”
“Hah….” Aku cukup menghela nafas
panjang
“Kamu ngga suka aku ya?” Sri
menyela,
“Hhmmm… Sri, aku sebenarnya suka
kamu juga. Aku juga bingung mau gimana, aku tahu kita marito, aku juga tau ngga
Cuma kita yang seperti ini, tapi apa kamu yakin kalau kita pacaran???”
“Iya sih, tapi apa salahnya? Kita
jalanin aja dulu”. Sri meyakinkan aku.
“Hhhmmmm…”. Aku hanya terdiam.
Mencoba mengambil keputusan yang harus aku jalani bersama dia.
“Okelah, kita jalanin aja dulu
dek.. mungkin kita bisa lebih serius dan disetujui keluarga.. makasi.. aku ma
kmu pacaran nihh.. makasi yak mu mau jadi pacar aku.. love u dek”
“Iya Joe, aku sayang kamu.”
Hari berjalan baik, perasaan
berbunga-bunga. Segalanya ku lakukan denga hati yang bersuka. Ohh tuhan.. aku
punya pacar baru.. semoga ini yang terakhir ya Tuhan.. amin. Mengamini dengan
senyuman gembira. Tetapi, ada kesalahan fatal. Baru saja jadian, aku sudah
mendapatkan masalah perdanaku dengan dia. Aku menanyakan perasaannya. Sayang??
Begitu cepatkah dia mengucapkan sayang. Sayang kah dia kepadaku yang baru
berumur satu hari?. Ohh tidak, dia marah dan menyatakan tidak jadi pacaran.
Saat itu tanggal 31 Agustus. Tepatnya sore hari, aku mengeluarkan banyak uang –
sebenarnya Rp 10.000,- -- untuk menelepon dia dan membujuk dia untuk kembali
pacaran. Segala kata manis dan deskripsi yang aku berikan, akhirnya meluluhkan
hatinya. Jadi kami resmi 31 Agustus hari kami jadian.
Perjalanan cinta kami selama 7
bulan tanpa diketahui siapa pun, hanya kami berdua. Hubungan yang kami
rahasiakan selama 7 bulan, tercium juga oleh temannya – ahonk—yang juga teman
sepermainan jovan, yang mengincar Sri, pacarku. Kabar yang begitu cepat, cepat
juga terdengar di keluarga kami masing-masing.
Aku begitu takut, begitu gelisah,
aku menghadap keluargaku dan membahas hubungaku dengan Sri Melani. Begitu
banyak nasihat aku terima, begitu banyak cerita sejarah adat batak yang ku
terima. Membahas marga yang marpadan
(saudara) dengan margaku. Dalam pikiranku, aku akan tamat. Selesai dengan
pacarku. Namun siapa sangka, orang tuaku sangat menerima hubungan kami, jelas
saja ternyata dalam adat. Aku dan dia memang marito, tapi kami bukan marpadan
yang sama sekali tidak boleh saling menikahi. Tapi kami marito yang bisa saling marsibuatan
(saling mengambil).
Perasaan ku lega sekali, mendapat
persetujuan namun sangat kecewa, keluarga Sri tidak mengingini hubungam kami.
Dengan alas an kami marito dan aku
tidak mengenal sejarah. Aku sangat mengenal sejarah, dan itulah alasanku untuk
mempertahankan Sri sebagai kekasihku.
Satu tahun kami menjalani hubungan
ini dan kasus pun semakin rumit. Ketika aku mendapat pesan dari pihak keluarga
Sri untuk menyudahi hubungan kami, selama itu aku dan sri membahas kisah
kelanjutannya seperti apa jadinya hubungan ini. Dalam tangis kami mencoba untuk
tenang, dalam tangis kami mencoba untuk menyelesaikan masalah ini, dalam tangis
kami sepakat untuk tidak berpisah, dan dalam tangis kami berjanji saling
menjaga perasaan bila harus putus dan ketika sukses dalam kehidupan kami. Kami
menyatakan cinta kami di depan keluarga kami masing-masing. Sebab dengan
mandirinya kami, keluarga tidak akan ikut campur masalah perasaan dan pasangan
kami masing-masing.
Setelah beberapa hari, kami pun
menjalani hubungan kami dengan normal, dan masih dalam kategori
sembunyi-sembunyi. Kini lebih dari satu tahun dua bulan. Kami masih menjaga
hubungan kami dan aku masih meminum kopi untuk mencari inspirasi juga cara
mendapatkan hati keluarganya dimasa mendatang. Meminum kopi sambil merenungkan
kisah perjalanan cinta kami. Meminum kopi untuk ketenangan diri. Meminum kopi,
menikmati kopi di KFC sambil terus bertanya bagaimana selanjutnya??
PARTUTURANI HALAK BATAK
Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu
istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan
sehari-hari.
Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena
itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu.
Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya,
kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak
laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya
dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan
kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam
keluarga. Di akhir bacaan nanti, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya
masing-masing, dan juga posisi orang-orang di sekeliling kita tercinta.
Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari, kekerabatan (partuturon )
adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di
artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling
berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ).
Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan
hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik
( nice attitude ).
Kita selaku orang Batak berbudaya sudah menanamkan ini sejak dulu
kala, kita tentu masih ingat petuah nenek moyang kita, seperti :
- Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan,
jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan ‘
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ” (
Dalihan Na Tolu juga akan saya tuliskan lengkap pada kesempatan mendatang ).
Adapun isi :
1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan
tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan
kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga
perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha )
:
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara
kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon )
= keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu (
ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni
suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu
marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara
beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik
marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padanmarga akan saya
tuliskan juga nanti, lengkap
dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa
marga berselisih, hewan dengan marga , kutukan yang abadi, dimana hingga saat
ini tetap
ada
tak berkesudahan )
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan
dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng
sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas
laut sai tinanda do rupa ni dongan
Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni
suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut =
puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i
ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan
pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita.
5. Boru na gojong = ito,
puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung
yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere =
keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina
dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan
perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen =
perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki
yang memanggil kita ‘Amang’ .
Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
- Elek ma ho
marboru, molo naeng ho sonang
- Bungkulan do
boru ( sibahen pardomuan )
- Durung do boru
tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
- Unduk marmeme
anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap
putera
dan puteri
- Tinallik
landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana
Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang
ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i
margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i
boru ni tulang
Yang dimaksud dengan hulahula :
- Tunggane dohot simatua = lae
kita dan mertua
- Tulang
- Bona Tulang = tulang dari
persaudaraan ompung
- Bona ni ari = hulahula dari
Bapak ompung kita . Pokoknya, semua hulahula yang posisinya
sudah jauh di
atas, dinamai Bona ni ari.
- Tulang rorobot = tulang dari
lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung
boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita
nikahi, merekalah
Yang disebut
dengan inang bao.
- Seluruh hulahula dongan
sabutuha, menjadi hulahula kita juga.
Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan
hulahula :
- Sigaiton lailai do
na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin
ayam
(jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati,
begitu pula terhadap hulahula,
kita
harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa
berbuat hal-hal
yang
menyenangkan hatinya.
- Na
mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan
mendapat
berkat
yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
- Hulahula i do
debata na tarida
- Hulahula i do
mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah
matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak
akan memberi kita
hamoraon,
hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon
yang
hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di
‘Ruma Gorga’ )
- Obuk do jambulan
na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do
mambahen marsundutsundut so ada mara
- Nidurung Situma
laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora
Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau
ternyata
Dalam
masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi,
kita
semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )
A. Dalam keluarga satu generasi :
(1) Amang/Among
: kepada bapak kandung
(2) Amangtua :
kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan
sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan
sabutuha,
parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’
atau
‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua,
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua,
dari marga
Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua
laki-laki
yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo.
Untuk perempuan yang kita
cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli :
atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang
tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang
ditinodohon
(di-per-adik kan) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya.
Uniknya, dalam acara ritual
adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu
memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata)
Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua
orang yang kita panggil
dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung
juga
merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang
mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi:
kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada
ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada
isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada
isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru :
kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada
adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat
ke atas
(17) Ompungboru
mangulahi : lihat ke atas
(Note
: sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil majan B1 or
B2 , atau minum-minum jus)
B. Dalam hubungan par-hulahula on
(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya
dengan epada ‘Amang’
(b) Simatua kepada ibu, inangtua, dan
inanguda dari isteri kita. Kita cukup
memangilnya ‘Inang’.
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’,
yakni epada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera
tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri
tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang
kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu
kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada
tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua
hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada
semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari
ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan
generasi di atasnya
C. Dalam hubungan par-boru on
(1) Hela :
kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang
menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae :
kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang
menikahi ito kandung kita
(3) Ito :
kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru :
kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru :
kepada isteri amangboru kita
(6) Lae :
kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito :
kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae :
kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito :
kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada
abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera
dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari
amangboru kita
Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu
ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal
balik )
Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang
dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS
anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS
lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang
Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang
dengan : Orang itu akan
Memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS
ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS
ito
ompungboru ( bao ) VS eda
anggia VS angkang
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tulang VS bere
nantulang VS bere
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang
Beberapa hal yang perlu di ingat :
Hanya laki-laki lah yang mar-lae,
mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang naposo.
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso .
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso .
Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya
pelanggaran adat yang dimaafkan. Misalnya begini : saya punya bere, perempuan,
menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya.
Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya
‘Amang’ karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua,
dan laki-laki itu harus memanggil saya ‘Tulang rorobot’ karena perempuan yang
dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya.
Partuturon karena keturunan lebih kuat daripada
partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap
panggil saya ‘Tulang’ dan si laki-laki harus
tetap memanggil saya ‘Bapatua/bapauda’
reposting
Langganan:
Postingan (Atom)