Rabu, 29 Februari 2012

Kopi Galau


Harum aroma kopi tercium dari uap secangkir kopi panas di malam yang dingin, termenung tercampur suasana ramai diselimuti dinginnya malam. Aku hanya diam di tengah kerumunan, sambil sesekali menghirup aroma kopi jahe. Aku hanya melihat uap kopi berputar-putar, seakan membawa pikiran ini terus berputar. Aku tidak peduli dengan keramaian, aku hanya aku dalam pikiranku memikirkan masalahku. Masalah hati ketika melihat mereka yang duduk berpasangan. Canda tawa dan kemesraan seolah dunia milik mereka. Sungguh membuatku ingin berteriak dan memarahi orang yang berpacaran di dekatku.
Tidak hentinya aku memikirkan dia, dia yang mencerahkan pikiranku, dia yang memikat hatiku, dia yang menurut adatku adalah seorang saudara. Saudara dalam kesatuan marga. Kini menjadi kekasih hatiku. Kekasih hatiku terbatasi oleh adat. Sungguh, perasaan ini sungguh dilemma. Cinta terlarang yang sebetulnya sudah umum. Bukan hanya aku. Bukan aku orang satu-satunya memiliki kasus ini. Tapi mengapa, seolah dunia mengatakan… aku tidak pantas memiliki.
Malam perkenalanku dengan seorang gadis cantik. Dimulai saat aku dan dia berada dalam acara ulang tahun Gerakan Pemuda GPIB Getsemani-Cirebon. Aku memang warga gereja GPIB Getsemani_cirebon, mengadakan event malam renungan selama tiga hari dua malam yang berketempatan di kuningan, sedikit mendekati Museum Konferensi Meja Bundar. Kami mengundang segenap pemuda GPIB Getsemani juga dari gereja lain, Gereja HKBP – gereja khusus orang batak—yang membawa gadis cantik tersebut dalam kehidupanku saat ini.
Aku berkenalan dengan dia di malam itu. Sungguh, sebenarnya aku belum ada perasaan sedikitpun terhadap dia. Aku hanya terpikat oleh kecantikannya. Aku memberanikan diri membaur dengan teman-temannya disaat istirahat. Mencoba mendekati mereka yang saat itu sedang bersenda gurau di teras kamar perempuan.
“Hai..”, aku menyapa dia.
“Hai juga”, suara lembut gadis manis cantik membalas sapaanku. Senang rasanya mendengar suara itu, terlebih dia gadis yang jutek.
“Nama kamu siapa? Aku Joe, namaku Yohanes Trisu Nababan, tapi dipanggil Joe”, aku memperkenalkan diri.
“Nama aku Sri, Sri Mellani Sihombing!”.
“Ohh….. kita marito dong”, marito adalah sebutan bagi saudara untuk lelaki dan perempuan seperti kakak adik. Untuk yang saling marito, mereka memanggil ito.
“oooohhhh… sayang sekali kita marito”, aku pun pupus, aku bersikap layaknya seorang abang dan bukan lagi pencari hati cinta wanita. Perkenalan yang singkat, namun menguras hati. Aku tidak bisa memiliki gadis cantik itu.
Perkenalan singkat yang sungguh menguras hati. Semakin terkuras saat tahu teman baikku pun mengincar dia. Jovan. Aku kesal namun hal itu juga yang membawa hubungan ku dan sri semakin dekat. Sri banyak menceritakan kelakuan Jovan untuk bisa mendapatkan hatinya, yang saat itu Sri pun memutuskan hubungan dengan pacarnya, saat event malam renungan menyatakan bila berpacaran beda keyakinan sangat dilarang keras. Berbagai upaya pun dilakukan Jovan untuk mendapatkan hati Sri.
Banyak upaya banyak juga cerita dan curahan hati dari Sri kepadaku. Tiga bulan dia dan aku saling sharing. Selama itulah kami dalam proses pengenalan diri masing-masing. Jika dipikir kembali, hal itu terjadi secara tidak sengaja. Tidak ada niat untuk melakukan pendekatan, namun kedekatan itu tercipta begitu saja seiring berlalunya waktu. Sri mengenal aku melalui cerita pengalaman hidupku, begitu pula aku mengenali dia dari cerita pengalaman hidupnya.
Sampai pada saat sri mengutarakan isi hatinya kepadaku. Handphone ku berbunyi. Sri memanggilku. Aku pun menerima panggilannya.
“Halo,,,”. Sri menyapa.
“Ya halo de,, ada apa? Tumben belom tidur?”.. aku berbicara setengah ngantuk.
“Iya Joe… aku ngga bisa tidur nih..”
“Ohhh… hmmmm… Tumben manggil Joe, biasanya bang.. hahahaha…” aku tertawa ngantuk “ ada apa dek, cerita aja klo ada yang mau kamu certain”.
“Iya joe, aku mau ngomong sesuatu ma kamu”
“Ohh… boleh”
“Aku ngga tau joe apa yang aku rasain, tapi aku nyaman ada kamu. Hhmmmm….. aku ngerasa nyaman klo ada kamu”
Mendengar hal itu, perasaanku seperti di tampar, otakku bekerja seperti sengatan listrik yang begitu cepat membunuh orang yang tersengat.
“Apa?? Maksud kamuu.., kamu suka aku?? Kamu mau pacaran gitu?? Pacaran?? Kita kan marito…”
“Iya bang.. aku suka kamu”
“Hah….” Aku cukup menghela nafas panjang
“Kamu ngga suka aku ya?” Sri menyela,
“Hhmmm… Sri, aku sebenarnya suka kamu juga. Aku juga bingung mau gimana, aku tahu kita marito, aku juga tau ngga Cuma kita yang seperti ini, tapi apa kamu yakin kalau kita pacaran???”
“Iya sih, tapi apa salahnya? Kita jalanin aja dulu”. Sri meyakinkan aku.
“Hhhmmmm…”. Aku hanya terdiam. Mencoba mengambil keputusan yang harus aku jalani bersama dia.
“Okelah, kita jalanin aja dulu dek.. mungkin kita bisa lebih serius dan disetujui keluarga.. makasi.. aku ma kmu pacaran nihh.. makasi yak mu mau jadi pacar aku.. love u dek”
“Iya Joe, aku sayang kamu.”
Hari berjalan baik, perasaan berbunga-bunga. Segalanya ku lakukan denga hati yang bersuka. Ohh tuhan.. aku punya pacar baru.. semoga ini yang terakhir ya Tuhan.. amin. Mengamini dengan senyuman gembira. Tetapi, ada kesalahan fatal. Baru saja jadian, aku sudah mendapatkan masalah perdanaku dengan dia. Aku menanyakan perasaannya. Sayang?? Begitu cepatkah dia mengucapkan sayang. Sayang kah dia kepadaku yang baru berumur satu hari?. Ohh tidak, dia marah dan menyatakan tidak jadi pacaran. Saat itu tanggal 31 Agustus. Tepatnya sore hari, aku mengeluarkan banyak uang – sebenarnya Rp 10.000,- -- untuk menelepon dia dan membujuk dia untuk kembali pacaran. Segala kata manis dan deskripsi yang aku berikan, akhirnya meluluhkan hatinya. Jadi kami resmi 31 Agustus hari kami jadian.
Perjalanan cinta kami selama 7 bulan tanpa diketahui siapa pun, hanya kami berdua. Hubungan yang kami rahasiakan selama 7 bulan, tercium juga oleh temannya – ahonk—yang juga teman sepermainan jovan, yang mengincar Sri, pacarku. Kabar yang begitu cepat, cepat juga terdengar di keluarga kami masing-masing.
Aku begitu takut, begitu gelisah, aku menghadap keluargaku dan membahas hubungaku dengan Sri Melani. Begitu banyak nasihat aku terima, begitu banyak cerita sejarah adat batak yang ku terima. Membahas marga yang marpadan (saudara) dengan margaku. Dalam pikiranku, aku akan tamat. Selesai dengan pacarku. Namun siapa sangka, orang tuaku sangat menerima hubungan kami, jelas saja ternyata dalam adat. Aku dan dia memang marito, tapi kami bukan marpadan yang sama sekali tidak boleh saling menikahi. Tapi kami marito yang bisa saling marsibuatan (saling mengambil).
Perasaan ku lega sekali, mendapat persetujuan namun sangat kecewa, keluarga Sri tidak mengingini hubungam kami. Dengan alas an kami marito dan aku tidak mengenal sejarah. Aku sangat mengenal sejarah, dan itulah alasanku untuk mempertahankan Sri sebagai kekasihku.
Satu tahun kami menjalani hubungan ini dan kasus pun semakin rumit. Ketika aku mendapat pesan dari pihak keluarga Sri untuk menyudahi hubungan kami, selama itu aku dan sri membahas kisah kelanjutannya seperti apa jadinya hubungan ini. Dalam tangis kami mencoba untuk tenang, dalam tangis kami mencoba untuk menyelesaikan masalah ini, dalam tangis kami sepakat untuk tidak berpisah, dan dalam tangis kami berjanji saling menjaga perasaan bila harus putus dan ketika sukses dalam kehidupan kami. Kami menyatakan cinta kami di depan keluarga kami masing-masing. Sebab dengan mandirinya kami, keluarga tidak akan ikut campur masalah perasaan dan pasangan kami masing-masing.
Setelah beberapa hari, kami pun menjalani hubungan kami dengan normal, dan masih dalam kategori sembunyi-sembunyi. Kini lebih dari satu tahun dua bulan. Kami masih menjaga hubungan kami dan aku masih meminum kopi untuk mencari inspirasi juga cara mendapatkan hati keluarganya dimasa mendatang. Meminum kopi sambil merenungkan kisah perjalanan cinta kami. Meminum kopi untuk ketenangan diri. Meminum kopi, menikmati kopi di KFC sambil terus bertanya bagaimana selanjutnya??

PARTUTURANI HALAK BATAK



Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari-hari.
Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu.
Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan nanti, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing, dan juga posisi orang-orang di sekeliling kita tercinta.
Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari, kekerabatan (partuturon ) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik ( nice attitude ).
Kita selaku orang Batak berbudaya sudah menanamkan ini sejak dulu kala, kita tentu masih ingat petuah nenek moyang kita, seperti :
-     Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan ‘
-     Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur

Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ” ( Dalihan Na Tolu juga akan saya tuliskan lengkap pada kesempatan mendatang ). Adapun isi :
1.   Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2.   Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3.   Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan

Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1.   Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2.   Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3.   Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4.   Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5.   Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6.   Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7.   Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padanmarga akan saya          tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga , kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada                                  tak berkesudahan )

Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan

Yang dimaksud dengan boru :
1.     Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2.     Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3.     Namboru ni suhut
4.     Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan
        pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita.
5.     Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung
        yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6.     Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7.     Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan
        perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8.     Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki
        yang memanggil kita ‘Amang’ .

Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
-      Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
-      Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
-      Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
-      Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap
       putera dan puteri
-      Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana

Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i
boru ni tulang

Yang dimaksud dengan hulahula :
-    Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
-    Tulang
-    Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
-    Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita . Pokoknya, semua hulahula yang posisinya
      sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
-    Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung
      boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah
      Yang disebut dengan inang bao.
-    Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga.

Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :
-      Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin
       ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitu pula terhadap hulahula,
       kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal
       yang menyenangkan hatinya.
-      Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat
       berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
-      Hulahula i do debata na tarida
-      Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah
       matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita
       hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon
       yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
-      Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do
       mambahen marsundutsundut so ada mara
-      Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora
       Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata
       Dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi, kita
       semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )


A. Dalam keluarga satu generasi :
(1)       Amang/Among : kepada bapak kandung
(2)       Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan
            sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
            Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha,
            parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau
            ‘Uda’
(4)       Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua,
            dari marga
            Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki
            yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita
            cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6)       Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang
            tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
            Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon
            (di-per-adik kan) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya.
            Uniknya,          dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu
            memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata)
            Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil
            dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga
            merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9)       Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10)     Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11)     Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12)     Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13)     Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14)     Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15)     Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16)     Ompungboru : lihat ke atas
(17)     Ompungboru mangulahi : lihat ke atas
(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil majan B1 or B2 , atau minum-minum jus)

B. Dalam hubungan par-hulahula on

(a)   Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya
        dengan epada ‘Amang’
(b)   Simatua kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup
        memangilnya ‘Inang’.
(c)   Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni epada semua ito dari isteri kita
(d)   Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e)   Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f)    Tulang : kepada ito ibu kita
(g)   Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h)   Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i)    Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua
        hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j)    Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k)   Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan
        generasi di atasnya

C. Dalam hubungan par-boru on
(1)       Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang
            menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2)       Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang
            menikahi ito kandung kita
(3)       Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4)       Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5)       Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6)       Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7)       Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8)       Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9)       Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10)     Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11)     Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12)     Bere : kepada ito dari amangboru kita

Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )
Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang

Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan
Memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
ompungboru ( bao ) VS eda
anggia VS angkang
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tulang VS bere
nantulang VS bere
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang

Beberapa hal yang perlu di ingat :
Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang naposo.
-      Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso .

Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya pelanggaran adat yang dimaafkan. Misalnya begini : saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya.
Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya ‘Amang’ karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya ‘Tulang rorobot’ karena perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya.
Partuturon karena keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap
panggil saya ‘Tulang’ dan si laki-laki harus tetap memanggil saya ‘Bapatua/bapauda’

reposting