Rabu, 29 Februari 2012

Kopi Galau


Harum aroma kopi tercium dari uap secangkir kopi panas di malam yang dingin, termenung tercampur suasana ramai diselimuti dinginnya malam. Aku hanya diam di tengah kerumunan, sambil sesekali menghirup aroma kopi jahe. Aku hanya melihat uap kopi berputar-putar, seakan membawa pikiran ini terus berputar. Aku tidak peduli dengan keramaian, aku hanya aku dalam pikiranku memikirkan masalahku. Masalah hati ketika melihat mereka yang duduk berpasangan. Canda tawa dan kemesraan seolah dunia milik mereka. Sungguh membuatku ingin berteriak dan memarahi orang yang berpacaran di dekatku.
Tidak hentinya aku memikirkan dia, dia yang mencerahkan pikiranku, dia yang memikat hatiku, dia yang menurut adatku adalah seorang saudara. Saudara dalam kesatuan marga. Kini menjadi kekasih hatiku. Kekasih hatiku terbatasi oleh adat. Sungguh, perasaan ini sungguh dilemma. Cinta terlarang yang sebetulnya sudah umum. Bukan hanya aku. Bukan aku orang satu-satunya memiliki kasus ini. Tapi mengapa, seolah dunia mengatakan… aku tidak pantas memiliki.
Malam perkenalanku dengan seorang gadis cantik. Dimulai saat aku dan dia berada dalam acara ulang tahun Gerakan Pemuda GPIB Getsemani-Cirebon. Aku memang warga gereja GPIB Getsemani_cirebon, mengadakan event malam renungan selama tiga hari dua malam yang berketempatan di kuningan, sedikit mendekati Museum Konferensi Meja Bundar. Kami mengundang segenap pemuda GPIB Getsemani juga dari gereja lain, Gereja HKBP – gereja khusus orang batak—yang membawa gadis cantik tersebut dalam kehidupanku saat ini.
Aku berkenalan dengan dia di malam itu. Sungguh, sebenarnya aku belum ada perasaan sedikitpun terhadap dia. Aku hanya terpikat oleh kecantikannya. Aku memberanikan diri membaur dengan teman-temannya disaat istirahat. Mencoba mendekati mereka yang saat itu sedang bersenda gurau di teras kamar perempuan.
“Hai..”, aku menyapa dia.
“Hai juga”, suara lembut gadis manis cantik membalas sapaanku. Senang rasanya mendengar suara itu, terlebih dia gadis yang jutek.
“Nama kamu siapa? Aku Joe, namaku Yohanes Trisu Nababan, tapi dipanggil Joe”, aku memperkenalkan diri.
“Nama aku Sri, Sri Mellani Sihombing!”.
“Ohh….. kita marito dong”, marito adalah sebutan bagi saudara untuk lelaki dan perempuan seperti kakak adik. Untuk yang saling marito, mereka memanggil ito.
“oooohhhh… sayang sekali kita marito”, aku pun pupus, aku bersikap layaknya seorang abang dan bukan lagi pencari hati cinta wanita. Perkenalan yang singkat, namun menguras hati. Aku tidak bisa memiliki gadis cantik itu.
Perkenalan singkat yang sungguh menguras hati. Semakin terkuras saat tahu teman baikku pun mengincar dia. Jovan. Aku kesal namun hal itu juga yang membawa hubungan ku dan sri semakin dekat. Sri banyak menceritakan kelakuan Jovan untuk bisa mendapatkan hatinya, yang saat itu Sri pun memutuskan hubungan dengan pacarnya, saat event malam renungan menyatakan bila berpacaran beda keyakinan sangat dilarang keras. Berbagai upaya pun dilakukan Jovan untuk mendapatkan hati Sri.
Banyak upaya banyak juga cerita dan curahan hati dari Sri kepadaku. Tiga bulan dia dan aku saling sharing. Selama itulah kami dalam proses pengenalan diri masing-masing. Jika dipikir kembali, hal itu terjadi secara tidak sengaja. Tidak ada niat untuk melakukan pendekatan, namun kedekatan itu tercipta begitu saja seiring berlalunya waktu. Sri mengenal aku melalui cerita pengalaman hidupku, begitu pula aku mengenali dia dari cerita pengalaman hidupnya.
Sampai pada saat sri mengutarakan isi hatinya kepadaku. Handphone ku berbunyi. Sri memanggilku. Aku pun menerima panggilannya.
“Halo,,,”. Sri menyapa.
“Ya halo de,, ada apa? Tumben belom tidur?”.. aku berbicara setengah ngantuk.
“Iya Joe… aku ngga bisa tidur nih..”
“Ohhh… hmmmm… Tumben manggil Joe, biasanya bang.. hahahaha…” aku tertawa ngantuk “ ada apa dek, cerita aja klo ada yang mau kamu certain”.
“Iya joe, aku mau ngomong sesuatu ma kamu”
“Ohh… boleh”
“Aku ngga tau joe apa yang aku rasain, tapi aku nyaman ada kamu. Hhmmmm….. aku ngerasa nyaman klo ada kamu”
Mendengar hal itu, perasaanku seperti di tampar, otakku bekerja seperti sengatan listrik yang begitu cepat membunuh orang yang tersengat.
“Apa?? Maksud kamuu.., kamu suka aku?? Kamu mau pacaran gitu?? Pacaran?? Kita kan marito…”
“Iya bang.. aku suka kamu”
“Hah….” Aku cukup menghela nafas panjang
“Kamu ngga suka aku ya?” Sri menyela,
“Hhmmm… Sri, aku sebenarnya suka kamu juga. Aku juga bingung mau gimana, aku tahu kita marito, aku juga tau ngga Cuma kita yang seperti ini, tapi apa kamu yakin kalau kita pacaran???”
“Iya sih, tapi apa salahnya? Kita jalanin aja dulu”. Sri meyakinkan aku.
“Hhhmmmm…”. Aku hanya terdiam. Mencoba mengambil keputusan yang harus aku jalani bersama dia.
“Okelah, kita jalanin aja dulu dek.. mungkin kita bisa lebih serius dan disetujui keluarga.. makasi.. aku ma kmu pacaran nihh.. makasi yak mu mau jadi pacar aku.. love u dek”
“Iya Joe, aku sayang kamu.”
Hari berjalan baik, perasaan berbunga-bunga. Segalanya ku lakukan denga hati yang bersuka. Ohh tuhan.. aku punya pacar baru.. semoga ini yang terakhir ya Tuhan.. amin. Mengamini dengan senyuman gembira. Tetapi, ada kesalahan fatal. Baru saja jadian, aku sudah mendapatkan masalah perdanaku dengan dia. Aku menanyakan perasaannya. Sayang?? Begitu cepatkah dia mengucapkan sayang. Sayang kah dia kepadaku yang baru berumur satu hari?. Ohh tidak, dia marah dan menyatakan tidak jadi pacaran. Saat itu tanggal 31 Agustus. Tepatnya sore hari, aku mengeluarkan banyak uang – sebenarnya Rp 10.000,- -- untuk menelepon dia dan membujuk dia untuk kembali pacaran. Segala kata manis dan deskripsi yang aku berikan, akhirnya meluluhkan hatinya. Jadi kami resmi 31 Agustus hari kami jadian.
Perjalanan cinta kami selama 7 bulan tanpa diketahui siapa pun, hanya kami berdua. Hubungan yang kami rahasiakan selama 7 bulan, tercium juga oleh temannya – ahonk—yang juga teman sepermainan jovan, yang mengincar Sri, pacarku. Kabar yang begitu cepat, cepat juga terdengar di keluarga kami masing-masing.
Aku begitu takut, begitu gelisah, aku menghadap keluargaku dan membahas hubungaku dengan Sri Melani. Begitu banyak nasihat aku terima, begitu banyak cerita sejarah adat batak yang ku terima. Membahas marga yang marpadan (saudara) dengan margaku. Dalam pikiranku, aku akan tamat. Selesai dengan pacarku. Namun siapa sangka, orang tuaku sangat menerima hubungan kami, jelas saja ternyata dalam adat. Aku dan dia memang marito, tapi kami bukan marpadan yang sama sekali tidak boleh saling menikahi. Tapi kami marito yang bisa saling marsibuatan (saling mengambil).
Perasaan ku lega sekali, mendapat persetujuan namun sangat kecewa, keluarga Sri tidak mengingini hubungam kami. Dengan alas an kami marito dan aku tidak mengenal sejarah. Aku sangat mengenal sejarah, dan itulah alasanku untuk mempertahankan Sri sebagai kekasihku.
Satu tahun kami menjalani hubungan ini dan kasus pun semakin rumit. Ketika aku mendapat pesan dari pihak keluarga Sri untuk menyudahi hubungan kami, selama itu aku dan sri membahas kisah kelanjutannya seperti apa jadinya hubungan ini. Dalam tangis kami mencoba untuk tenang, dalam tangis kami mencoba untuk menyelesaikan masalah ini, dalam tangis kami sepakat untuk tidak berpisah, dan dalam tangis kami berjanji saling menjaga perasaan bila harus putus dan ketika sukses dalam kehidupan kami. Kami menyatakan cinta kami di depan keluarga kami masing-masing. Sebab dengan mandirinya kami, keluarga tidak akan ikut campur masalah perasaan dan pasangan kami masing-masing.
Setelah beberapa hari, kami pun menjalani hubungan kami dengan normal, dan masih dalam kategori sembunyi-sembunyi. Kini lebih dari satu tahun dua bulan. Kami masih menjaga hubungan kami dan aku masih meminum kopi untuk mencari inspirasi juga cara mendapatkan hati keluarganya dimasa mendatang. Meminum kopi sambil merenungkan kisah perjalanan cinta kami. Meminum kopi untuk ketenangan diri. Meminum kopi, menikmati kopi di KFC sambil terus bertanya bagaimana selanjutnya??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar