Harum aroma kopi tercium dari uap
secangkir kopi panas di malam yang dingin, termenung tercampur suasana ramai
diselimuti dinginnya malam. Aku hanya diam di tengah kerumunan, sambil sesekali
menghirup aroma kopi jahe. Aku hanya melihat uap kopi berputar-putar, seakan
membawa pikiran ini terus berputar. Aku tidak peduli dengan keramaian, aku
hanya aku dalam pikiranku memikirkan masalahku. Masalah hati ketika melihat
mereka yang duduk berpasangan. Canda tawa dan kemesraan seolah dunia milik
mereka. Sungguh membuatku ingin berteriak dan memarahi orang yang berpacaran di
dekatku.
Tidak hentinya aku memikirkan dia,
dia yang mencerahkan pikiranku, dia yang memikat hatiku, dia yang menurut
adatku adalah seorang saudara. Saudara dalam kesatuan marga. Kini menjadi
kekasih hatiku. Kekasih hatiku terbatasi oleh adat. Sungguh, perasaan ini
sungguh dilemma. Cinta terlarang yang sebetulnya sudah umum. Bukan hanya aku.
Bukan aku orang satu-satunya memiliki kasus ini. Tapi mengapa, seolah dunia
mengatakan… aku tidak pantas memiliki.
Malam perkenalanku dengan seorang
gadis cantik. Dimulai saat aku dan dia berada dalam acara ulang tahun Gerakan
Pemuda GPIB Getsemani-Cirebon. Aku memang warga gereja GPIB Getsemani_cirebon,
mengadakan event malam renungan
selama tiga hari dua malam yang berketempatan di kuningan, sedikit mendekati
Museum Konferensi Meja Bundar. Kami mengundang segenap pemuda GPIB Getsemani
juga dari gereja lain, Gereja HKBP – gereja khusus orang batak—yang membawa
gadis cantik tersebut dalam kehidupanku saat ini.
Aku berkenalan dengan dia di malam
itu. Sungguh, sebenarnya aku belum ada perasaan sedikitpun terhadap dia. Aku
hanya terpikat oleh kecantikannya. Aku memberanikan diri membaur dengan
teman-temannya disaat istirahat. Mencoba mendekati mereka yang saat itu sedang
bersenda gurau di teras kamar perempuan.
“Hai..”, aku menyapa dia.
“Hai juga”, suara lembut gadis
manis cantik membalas sapaanku. Senang rasanya mendengar suara itu, terlebih
dia gadis yang jutek.
“Nama kamu siapa? Aku Joe, namaku
Yohanes Trisu Nababan, tapi dipanggil Joe”, aku memperkenalkan diri.
“Nama aku Sri, Sri Mellani
Sihombing!”.
“Ohh….. kita marito dong”, marito adalah sebutan bagi saudara untuk
lelaki dan perempuan seperti kakak adik. Untuk yang saling marito, mereka memanggil ito.
“oooohhhh… sayang sekali kita
marito”, aku pun pupus, aku bersikap layaknya seorang abang dan bukan lagi
pencari hati cinta wanita. Perkenalan yang singkat, namun menguras hati. Aku
tidak bisa memiliki gadis cantik itu.
Perkenalan singkat yang sungguh
menguras hati. Semakin terkuras saat tahu teman baikku pun mengincar dia.
Jovan. Aku kesal namun hal itu juga yang membawa hubungan ku dan sri semakin
dekat. Sri banyak menceritakan kelakuan Jovan untuk bisa mendapatkan hatinya,
yang saat itu Sri pun memutuskan hubungan dengan pacarnya, saat event malam renungan menyatakan bila
berpacaran beda keyakinan sangat dilarang keras. Berbagai upaya pun dilakukan
Jovan untuk mendapatkan hati Sri.
Banyak upaya banyak juga cerita dan
curahan hati dari Sri kepadaku. Tiga bulan dia dan aku saling sharing. Selama itulah kami dalam proses
pengenalan diri masing-masing. Jika dipikir kembali, hal itu terjadi secara
tidak sengaja. Tidak ada niat untuk melakukan pendekatan, namun kedekatan itu
tercipta begitu saja seiring berlalunya waktu. Sri mengenal aku melalui cerita
pengalaman hidupku, begitu pula aku mengenali dia dari cerita pengalaman
hidupnya.
Sampai pada saat sri mengutarakan
isi hatinya kepadaku. Handphone ku
berbunyi. Sri memanggilku. Aku pun menerima panggilannya.
“Halo,,,”. Sri menyapa.
“Ya halo de,, ada apa? Tumben belom
tidur?”.. aku berbicara setengah ngantuk.
“Iya Joe… aku ngga bisa tidur
nih..”
“Ohhh… hmmmm… Tumben manggil Joe,
biasanya bang.. hahahaha…” aku tertawa ngantuk “ ada apa dek, cerita aja klo
ada yang mau kamu certain”.
“Iya joe, aku mau ngomong sesuatu
ma kamu”
“Ohh… boleh”
“Aku ngga tau joe apa yang aku
rasain, tapi aku nyaman ada kamu. Hhmmmm….. aku ngerasa nyaman klo ada kamu”
Mendengar hal itu, perasaanku
seperti di tampar, otakku bekerja seperti sengatan listrik yang begitu cepat
membunuh orang yang tersengat.
“Apa?? Maksud kamuu.., kamu suka
aku?? Kamu mau pacaran gitu?? Pacaran?? Kita kan marito…”
“Iya bang.. aku suka kamu”
“Hah….” Aku cukup menghela nafas
panjang
“Kamu ngga suka aku ya?” Sri
menyela,
“Hhmmm… Sri, aku sebenarnya suka
kamu juga. Aku juga bingung mau gimana, aku tahu kita marito, aku juga tau ngga
Cuma kita yang seperti ini, tapi apa kamu yakin kalau kita pacaran???”
“Iya sih, tapi apa salahnya? Kita
jalanin aja dulu”. Sri meyakinkan aku.
“Hhhmmmm…”. Aku hanya terdiam.
Mencoba mengambil keputusan yang harus aku jalani bersama dia.
“Okelah, kita jalanin aja dulu
dek.. mungkin kita bisa lebih serius dan disetujui keluarga.. makasi.. aku ma
kmu pacaran nihh.. makasi yak mu mau jadi pacar aku.. love u dek”
“Iya Joe, aku sayang kamu.”
Hari berjalan baik, perasaan
berbunga-bunga. Segalanya ku lakukan denga hati yang bersuka. Ohh tuhan.. aku
punya pacar baru.. semoga ini yang terakhir ya Tuhan.. amin. Mengamini dengan
senyuman gembira. Tetapi, ada kesalahan fatal. Baru saja jadian, aku sudah
mendapatkan masalah perdanaku dengan dia. Aku menanyakan perasaannya. Sayang??
Begitu cepatkah dia mengucapkan sayang. Sayang kah dia kepadaku yang baru
berumur satu hari?. Ohh tidak, dia marah dan menyatakan tidak jadi pacaran.
Saat itu tanggal 31 Agustus. Tepatnya sore hari, aku mengeluarkan banyak uang –
sebenarnya Rp 10.000,- -- untuk menelepon dia dan membujuk dia untuk kembali
pacaran. Segala kata manis dan deskripsi yang aku berikan, akhirnya meluluhkan
hatinya. Jadi kami resmi 31 Agustus hari kami jadian.
Perjalanan cinta kami selama 7
bulan tanpa diketahui siapa pun, hanya kami berdua. Hubungan yang kami
rahasiakan selama 7 bulan, tercium juga oleh temannya – ahonk—yang juga teman
sepermainan jovan, yang mengincar Sri, pacarku. Kabar yang begitu cepat, cepat
juga terdengar di keluarga kami masing-masing.
Aku begitu takut, begitu gelisah,
aku menghadap keluargaku dan membahas hubungaku dengan Sri Melani. Begitu
banyak nasihat aku terima, begitu banyak cerita sejarah adat batak yang ku
terima. Membahas marga yang marpadan
(saudara) dengan margaku. Dalam pikiranku, aku akan tamat. Selesai dengan
pacarku. Namun siapa sangka, orang tuaku sangat menerima hubungan kami, jelas
saja ternyata dalam adat. Aku dan dia memang marito, tapi kami bukan marpadan
yang sama sekali tidak boleh saling menikahi. Tapi kami marito yang bisa saling marsibuatan
(saling mengambil).
Perasaan ku lega sekali, mendapat
persetujuan namun sangat kecewa, keluarga Sri tidak mengingini hubungam kami.
Dengan alas an kami marito dan aku
tidak mengenal sejarah. Aku sangat mengenal sejarah, dan itulah alasanku untuk
mempertahankan Sri sebagai kekasihku.
Satu tahun kami menjalani hubungan
ini dan kasus pun semakin rumit. Ketika aku mendapat pesan dari pihak keluarga
Sri untuk menyudahi hubungan kami, selama itu aku dan sri membahas kisah
kelanjutannya seperti apa jadinya hubungan ini. Dalam tangis kami mencoba untuk
tenang, dalam tangis kami mencoba untuk menyelesaikan masalah ini, dalam tangis
kami sepakat untuk tidak berpisah, dan dalam tangis kami berjanji saling
menjaga perasaan bila harus putus dan ketika sukses dalam kehidupan kami. Kami
menyatakan cinta kami di depan keluarga kami masing-masing. Sebab dengan
mandirinya kami, keluarga tidak akan ikut campur masalah perasaan dan pasangan
kami masing-masing.
Setelah beberapa hari, kami pun
menjalani hubungan kami dengan normal, dan masih dalam kategori
sembunyi-sembunyi. Kini lebih dari satu tahun dua bulan. Kami masih menjaga
hubungan kami dan aku masih meminum kopi untuk mencari inspirasi juga cara
mendapatkan hati keluarganya dimasa mendatang. Meminum kopi sambil merenungkan
kisah perjalanan cinta kami. Meminum kopi untuk ketenangan diri. Meminum kopi,
menikmati kopi di KFC sambil terus bertanya bagaimana selanjutnya??