gw ngeposting ulang artikel ini buat nambah2 link,
klo pada berminat buka blog gw kan bagus tuh,, nambah ilmu sejarah batak juga..
buat kamu orang batak.. awalnya gw nyari info itu karena pacaran tarito..
pacaran madet di adat.. jadi berbagai info dicari buat mempertahankan sesuatu
yang udah2.. tapi karena keluarga cewe gw ngga nerima dan bilang gw ngga tau
sejarah.. dan ini gw akhirnya tau.. btw,, sampai sekarang juga masih pacaran..
karena udah tau adat... jadi ada beberapa versi dari sejarah SIRAJA LONTUNG
moyangnya NABABAN (gw) dan Lumban Toruan (cewe gw),,
versi 1:
SARIBU RAJA, SIBORU PAREME, BABIAT SITELPANG, LONTUNG
Saribu Raja & Siboru Pareme sebenarnya kakak beradik
Kandung (namariboto). Pada masa itu jumlah manusia masih sedikit. Sudah kodrat
alam, Saribu Raja mencintai adiknya sama seperti mencintai gadis lain. Keduanya
terlanjur seperti suami istri, sehingga Siboru Pareme hamil. Mengetahui keadaan
itu, saudaranya yang lain Sagala Raja, dan Malau Raja sangat murka dan berupaya
membunuh kedua saudaranya Saribu Raja dan Siboru Pareme. Tetapi untuk melaksanakan
niat itu tidak ada yg tega untuk membunuh. Akhirnya mereka sepakati untuk
membuang keduanya ke tengah hutan atau tombak longo longo secara terpisah.
Siboru Pareme dibuang kesekitar wilayah Ulu Darat di atas Sabulan dan Saribu
Raja dibuang jauh kearah Barat (Barus).
Siboru Pareme hampir putus asa, karena tempat
pembuangannya itu ternyata habitat harimau (banyak harimau berkeliaran) yg siap
memangsanya.
Suatu ketika, Siboru Pareme yg sudah hamil tua dan
kesepian , dikejutkan oleh seekor harimau yang mengaum mendekatinya. Namun
karena sudah terbiasa melihat harimau dan penderitaan yg dialaminya, ia tidak
takut lagi dan pasrah untuk di mangsa . Setelah menunggu beberapa saat,
ternyata harimau itu tidak memangsanya. Harimau tadi membuka mulutnya lebar-lebar
dihadapan Siboru Pareme seakan meminta bantuan. Dari jarak dekat Siboru Pareme
melihat ada sepotong tulang yg tertancap di rahang harimau itu. Timbul rasa iba
dihati Siboru Pareme. Tanpa ragu Siboru Pareme mencabut potongan tulang itu dan
di buangnya. Setelah itu harimau yg dikenal buas itu menjadi jinak kepada
Siboru Pareme. Sejak itu harimau yg dikenal BABIAT SITELPANG setiap pagi dan
sore mengantar daging hasil buruannya ketempat Siboru Pareme. Budi baik yang
diterimanya dari wanita yang sedang hamil tua itu menumbuhkan rasa sayang
BABIAT SITELPANG yang diwujudkannya dengan tetap menjaganya hingga melahirkan
SIRAJA LONTUNG.
SIRAJA LONTUNG yg hidup dengan ibunya ditengah hutan
sekitar Ulu Darat selalu didampingi oleh BABIAT SITELPANG. Tidak seorang pun manusia
lain yang mereka kenal. Namun Siboru Pareme selalu memberi pengetahuan
kemasyarakatan kepada anaknya termasuk partuturan adat batak.
Setelah SIRAJA LONTUNG beranjak dewasa dan sudah bisa
menikah, ia bertanya kepada ibunya di mana kampung tulangnya. Ia sangat berniat
menikah dengan putri tulangnya (paribannya). Siboru Pareme merasa sedih dan
sejenak terdiam. Hatinya gusar, kalau diberitahu yang sebenarnya, takut
tulangnya yg membuang ke tombak longo longo itu membunuh SIRAJA LONTUNG, Siboru
Pareme selalu berupaya mengelak dari pertanyaan anaknya. Namun karena tidak
ingin anaknya menjadi korban kemarahan tulangnya, akhirnya Siboru Pareme
membuat siasat. Ia harus mengorbankan dirinya untuk dikawini SIRAJA LONTUNG,
KARENA TIDAK ADA MANUSIA DI HUTAN ITU.
Suatau malam menjelang tidur Siboru Pareme memanggil
anaknya. “Sudah sejak lama kau menanyakan boru tulangmu, Sebenarnya anakku…kau
sudah saya bohongi” ujar Siboru Pareme dan mulai menjelaskan ciri-ciri
paribannya. Boru tulangmu itu persis seperti saya, baik postur tubuh dan
rambutnya, tingginya juga sama dengan saya. Tetapi kalau itu yg kau inginkan,
saya juga senang. Pergilah mencari paribanmu. Kalau saya pergi mencari ayahmu
ke arah barus, kalian bersama istrimu tinggal disini”, ujar Siboru Pareme
dengan serius membuat SIRAJA LONTUNG manggut manggut.
Kemudian Siboru Pareme merekayasa sebuah tempat sebagai
kampung tulangnya.
Kepada SIRAJA LONTUNG, Siboru Pareme memesankan jangan
sampai masuk ke kampung tulangnya.” Tetapi lihatlah boru tulangmu tengah mandi
sore di Pansur sana”, kata ibunya sambil menunjuk sebuah pansur dari atas
pebukitan Ulu Darat. “Kamu nanti berjalan dari sana, kalau kau langsung turun
dan tembak lurus, kamu akan kesulitan, saya kuatir kamu masuk jurang”, kata
ibunya sanbil mengarahkan SIRAJA LONTUNG mengambil jalan melingkar ke pansuran
itu walaupun ada jalan yg lebih cepat menuju tempat pansuuran itu.
Setelah SIRAJA LONTUNG berlalu, Siboru Pareme bergegas
pergi ke pancuran (pansur) yang ditunjukkannya kepada anaknya. Ia mengambil
jalan pintas dan tiba lebih awal dari SIRAJA LONTUNG. Dengan tergesa-gesa dia
membuka pakaian laklak dan mandi di pansur itu. Waktu sudah semakin sore,
matahari sudah mulai tenggelam. Ia sudah mulai mendengar tanda-tanda SIRAJA
LONTUNG sudah dekat . Hati Siboru Pareme mulai berdebar, detakan jantungnya
mulai dag dig dug, karena dia kuatir dikenal anaknya SIRAJA LONTUNG yg menjadi
calon suaminya.
SIRAJA LONTUNG semakin mendekat. Ia mendengar ada manusia
tengah mandi di pansuran itu. “ Berarti benar apa yang diberitahu ibuku”,
katanya dalam hati, sambil mengintip dari celah-celah pohon. Ia tidak sabar
terlalu lama lagi, karena hari sudah gelap dan langsung menghampiri Siboru
Pareme, setelah membiarkan Siboru Pareme menutupi tubuhnya dengan kain laklak.
“Bah benar juga yg dibilang ibuku, tidak ada ubahnya
seperti dia”, katanya dalam hati. “Santabi boru ni tulang, saya ingin
menyampaikan pesan ibuku”, kata SIRAJA LONTUNG dan menggapai tangan Siboru
Pareme serta meremas jemari perempuan yang disebut paribannya itu, dan menyelipkan
cincin ibunya ke jari manis dan ternyata pas. “Berarti tidak salah lagi, kaulah
paribanku itu. Wajahmu seperti ibuku dan cincin ibuku cocok dijari manismu,”
lanjutnya merasa yakin.
Tanpa ragu dia menyampaikan niatnya untuk mengawini
paribannya itu. Dengan malu-malu, sambil menutupi sebagian pipinya dengan
rambut yg hitam panjang, menjawab pinangan itu dengan setuju. Kemudian
membawanya ke tempat tinggalnya di sekitar wilayah Ulu Darat.
Malam semakin pekat, keduanya pulang sesuai pesanan
ibunya. Namun SIRAJA LONTUNG terkejut, sebab ibunya tidak lagi di jumpai di
rumahnya. Ia teringat pesan ibunya yang berniat mencari ayahnya SARIBU RAJA
kearah Barus. Keduanya hidup serumah dan menjadi suami istri, dan lahirlah anak
mereka tujuh laki-laki dan satu perempuan. Masing-masing bernama yaitu: Toga
Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan , Toga Nainggolan , Toga Simatupang ,
Toga Aritonang dan Toga Siregar. Dan satu-satunya putrinya kawin dengan marga
Simamora. Namun setelah perkawinan mereka, tidak lama kemudian suaminya
meninggal dan dia kawin lagi ke Marga Sihombing.
versi 2
Anak dari Si RAJA BATAK ada dua yakni Guru Tatea Bulan
dan Raja Sumba (Isumbaon).
Sekarang kita fokus pada keturunan Guru Tatea Bulan di
mana dia mempunyai lima putra dan empat putri sebagai berikut:
1. Raja Biak-biak (putra)
2. Tuan Saribu Raja (putra)
3. Siboru pareme (putri)
4. Limbong Mulana (putra)
5. Siboru Paromas (putri)
6. Sagala Raja (putra)
7. Siboru Biding Laut (putri)
8. Malau Raja (putra)
9. Nan Tinjo (putri)
Kisahnya adalah sebagai berikut :
Tuan Saribu raja bertumbuh menjadi dewasa, demikian pula
adiknya yang perempuan Siboru pareme. Langkanya manusia, terisolasinya tempat
tinggal, naluri dan dorongan alamiah pada diri mereka membuat mereka lepas
kendali. Hubungan gelap di antara mereka akhirnya membawa buah. Siboru pareme
hamil. Rahasia yang selama ini dipendam kini terungkap. Incest
demikian jelas merupakan pelanggaran serius.
Adat dan kesepakatan menetapkan hukuman mati bagi mereka
berdua. Namun karena kehamilannya Siboru Pareme tak boleh dibunuh. Dia dibuang
ke sebuah hutan di atas Sabulan sekrang, satu daerah yang dianggap sebagai
sarang harimau. Biarlah harimau itu yang membunuhnya, kalau bukan kelaparan dan
deritanya sendiri. Begitulah pikiran Limbong Mulana dan adik-adiknya.
Singkat cerita, siboru pareme suatu ketika menolong
seekor harimau (ompu i ) datang membawa deritanya dimana secercah tulang
tertancap di kerongkongannya. Siboru Pareme mengeluarkan serpiah tulang itu dan
sejak itu timbullah sejenis persahabatan di antara mereka (makanya keturunan
Lontung tidak pernah akan dimakan harimau dihutan, karena ada babiat setelpang
yang akan menolongnya). Semua proses persalinan yang dialami Siboru Pareme ,
juga dibantu oleh Harimau tadi, lalu lahirlah seorang laki-laki dan diberi nama
“si Raja
Lontung”.
Si Raja Lontung pun sudah dewasa, dan Siboru Pareme yakin
dan tahu bahwa Si Raja Lontung tidak dapat menemukan seorang perempuan jadi
isterinya, niscaya dia akan mati lajang tanpa keturunan. Lalu suatu siasat
dikembangkan dalam kerahasiaan pribadi yang amat sangat. pada satu saat yang
baik Siboru Pareme menyerahkan cincinnya pada Si Raja Lontung dengan pesan :
Pergilah ke tepian yang ada di kejauhan sana. Tunggulah disana hingga paribanmu
turun mengambil air. Dia mirip sekali dengan saya hingga sulit dibedakan.
Pasangkan cincin ini pada jarinya dan lihat ini pun harus pas betul. Bila hal
ini telah terbukti bujuklah dia menjadi isterimu. Selanjutnya Siboru pareme
menrengkan jalan berliku yang harus ditempuh anaknya. Si Raja Lontung pun
berangkat menapaki jalan berliku seperti yang telah dirunjuki oleh ibunya. Sementara
itu si Boru Pareme pun bernagkat ke tepian yang sama. Dia mengambil jalan
pintas agar dapat mendahului anaknya. Setibanya disana dia pun mendandani
dirinya sedemikian rupa hingga nampak lain dan lebih muda. pada hari anaknya
tiba, dia sudah siap.
Si Raja Lontung tiba. Setelah menunggu sesaat seorang
perempuan yang mirip dengan ibunya (dan memang ibunya) turun ke tepian untuk
mengambil air. Satu acara perkenalan yang singkat terjadi dan sekepakatan
dicapai, lalu keduanya minggat untuk kawin di tempat lain. Jadilah Si Raja
Lontung Oedipus-nya orang Batak. Bagi siboru Pareme ini merupakan kawin sumbang
yang kedua.
Penyamaran dan lakon Siboru Pareme demikian sempurna
hingga kecurigaan Si Raja Lontung tak pernah berkembang dan dia tak pernah
yakin bahwa dia telah memperistri ibunya.
SiRaja Lontung mempunyai tujuh putra dan dua putri :
1. Ompu Tuan Situmorang (putra)
2. Sinaga Raja (putra)
3. Pandiangan (putra)
4. Nainggolan (putra)
5. Simatupang (putra)
6. Aritonang (putra)
7. Siregar (putra)
8. Siboru Amak Pandan (putri) dan
9. Siboru Panggabean (putri) Kedua putri ini kawin
dengan Simamora dan Sihombing.
Namun kedua boru ini lebih
lazim dipanggil “Sihombing-Simamora”
Ketujuh putra ini kemudian
menurunkan marga Lontung yang tujuh itu, masing-masing menurut
namanya. Satu hal yang unik ialah bahwa ketujuh marga Lontung ini tidak merasa
puas bila tidak menyertakan kedua boru itu dalam
bilangan dan kelompoknya. Inilah cikal bakal sebutan “Lontung
Sisia Sada Ina Pasia Boruna Sihombing-Simamora“.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar